Connect with us

Religi

Ruang Manis untuk Hari Esok

Published

on

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Renungan :
Pdt Lucy Abe Gerret STh

Nats Alkitab : Kolose 3:13

Bapak, Ibu, dan Saudara-saudari yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus.
Ketika seseorang digigit oleh seekor ular berbisa, secara medis rasa sakit dari gigitan fisik ular itu sebenarnya tidak langsung membunuh orang itu.

Luka robek di kulit akibat taring ular bisa diobati dan dijahit. Yang mematikan bukan gigitannya, melainkan bisa atau racun yang menjalar masuk ke dalam aliran darah dan merusak jantung serta organ tubuh jika dibiarkan tetap tinggal di dalam.

Karenanya, ketika seseorang yang digigit ular maka ia harus pergi ke dokter untuk mengeluarkan racunnya. Namun bayangkan jika orang yang terkena gigitan ular ini justru marah, dendam, dan mengejar ular tersebut ke dalam hutan untuk membalas dendam. Sepanjang jalan, ia berteriak,

“Saya tidak terima! Ular itu harus membayar apa yang dia lakukan pada saya!”. Bisakah kita bayangkan apa yang terjadi? Sementara dia sibuk memikirkan cara membalas dendam kepada ular itu, racun di dalam tubuhnya menjalar perlahan dan pada akhirnya membunuhnya.

Ular yang menggigitnya sudah pergi entah ke mana dan hidup dengan tenang, tetapi orang yang menyimpan racun itu justru binasa oleh kemarahannya sendiri.

Saudara-saudara yang terkasih, inilah gambaran kita yang masih terus menyimpan luka batin, kejengkelan, dan menolak mengampuni. Orang yang menyakiti kita yang mungkin adalah mantan pasangan, rekan bisnis yang berkhianat, sahabat, atau bahkan orang tua sendiri – mereka sudah melanjutkan hidup mereka dan telah tertidur nyenyak setiap malamnya.

Tetapi kita justru membiarkan “racun” kepahitan tetap tinggal di dalam hati kita untuk perlahan membinasakan kita. Tidak sadarkah kita, bahwa kita sedang menghukum diri kita sendiri atas kesalahan yang dilakukan oleh orang lain.

Namun melalui Kolose 3:13, kita diingatkan bahwa Tuhan tidak ingin kita mati perlahan karena racun kepahitan itu. Melainkan “sabar” (Yun: anechomai), ini berarti menahan diri, bertahan, atau memberikan ruang bagi kekurangan orang lain.

Paulus tahu, selama kita masih hidup bersama manusia lain di dunia ini, gesekan akan selalu ada. Suami dan istri bisa berbeda pendapat. Rekan pelayanan bisa salah paham. Namun kita harus sabar satu dengan yang lain. Kita harus sadar bahwa orang di sekitar kita—dan bahkan kita sendiri—adalah manusia yang belum sempurna dan sedang berproses.

Ketika seseorang berbuat salah atau mengecewakan kita, jangan langsung bereaksi dengan amarah. Berikan ruang di hati kita untuk memaklumi. Jangan biarkan setiap riak kecil perbedaan langsung berubah menjadi luka batin yang dalam.

Dalam hal sepele ataupun besar, kita tidak diperbolehkan untuk mendendam, tetapi Ampunilah! Tentu ini tidak berarti kita membenarkan kejahatan orang tersebut, tidak pula berarti kita menjadi lemah dan membiarkan diri kita diinjak-injak.

Tetapi Mengampuni adalah sebuah keputusan tegas di hadapan Tuhan: “Tuhan, saya melepaskan hak saya untuk membalas dendam. Saya mengeluarkan racun ini dari hati saya, dan saya menyerahkan keadilan sepenuhnya ke dalam tangan-Mu.”

Saat kita mengampuni, kita tidak sedang membebaskan orang yang bersalah itu dari hukuman Tuhan, tetapi kita sedang membebaskan diri sendiri dari penjara kepahitan. Sesungguhnya, kita adalah orang berdosa yang juga sudah berulang kali menyakiti hati Tuhan dengan pelanggaran kita.

Utang dosa kita di hadapan Allah jauh lebih besar, namun di atas kayu salib, Yesus telah memberikan pengampunan secara gratis. Sehingga, Jika Raja Semesta Alam sudah mengampuni kita tanpa syarat, sungguh tidak masuk akal jika kita yang penuh noda ini menahan pengampunan bagi sesama.

Oleh karena itu saudara, berhentilah mengejar “ular” yang telah menggigit kita. Jangan mengorbankan kedamaian, kesehatan mental, bahkan hubungan Anda dengan Tuhan demi mempertahankan racun batin kita.

Memang mengampuni tidak pernah mengubah masa lalu yang pahit, tetapi mengampuni selalu berarti meluangkan ruang yang manis untuk masa depan kita. Saudara, serahkan lukamu kepada Tuhan dan biarkan hatimu tetap menjadi taman yang indah bagi damai sejahtera Tuhan, Maka lihatlah Tuhan pasti bekerja dengan cara-Nya yang sempurna. Amin

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Religi

BEYOND THE COVER : Ketika Tuhan Memilih Hatimu

Published

on

Pdt. Lucy Abe Gerret, STh

Renungan sesuai MTPJ GMIM sepanjang minggu ini

Oleh : Pdt. Lucy Abe Gerret, STh

Nats Alkitab : 1 Samuel 16:1-13

Bapak-ibu, saudara yang dikasihi Tuhan,
Ben Stuart adalah seorang hamba Tuhan dan penulis buku relasi Kristen terkenal di dunia. Di masa mudanya, Ben sangat mencintai seorang wanita. Baginya, wanita itu adalah segalanya dan masa depannya.

Namun seiring waktu, Tuhan menyingkapkan kebenaran pahit: wanita itu ternyata tidak setia, berkarakter buruk, dan sangat toxic. Hubungan mereka hancur lebur. Ben mengalami patah hati yang luar biasa dan duka yang teramat panjang.

Ia tidak mengerti mengapa Tuhan membiarkannya melewati rasa sakit akibat pengkhianatan itu. Namun, setelah hatinya dipulihkan, Tuhan justru mempertemukannya dengan Donna—seorang wanita luar biasa yang tidak hanya cantik, tetapi memiliki hati yang mencintai Tuhan dan mendukung penuh panggilan hidupnya.

Bersama Donna, Ben kini membangun keluarga yang memulihkan jutaan anak muda di dunia. Di akhir masa pemulihannya, Ben Stuart menuliskan sebuah kalimat yang sangat indah: “Tuhan mematahkan hatiku yang dulu, justru untuk menyelamatkan seluruh sisa hidupku.”

Saudara, tahukah kita ketika Tuhan memisahkan kita dari seseorang yang kita cintai, itu bukan karena Tuhan jahat tetapi karena Tuhan melihat apa yang tidak bisa kita lihat. Tuhan sedang memproteksi kita dari kehancuran masa depan, dan Dia sedang bersiap mengirimkan seseorang yang jauh lebih baik.

Dan inilah pula yang mau Tuhan sampaikan kepada Nabi Samuel yang sementara berdukacita hebat ketika Tuhan menolak Saul sebagai raja. Siang malam Nabi Samuel mendoakan agar Saul bertobat dan berbalik kejalan Tuhan, namun sayangnya Doanya tidak dijawab.

Samuel merasa masa depan Israel suram karena pemimpin yang ia urapi ternyata gagal dan berhati jahat. Samuel menangisi Saul yang telah berbalik memunggungi Tuhan. Tetapi Tuhan datang kepadaNya memintanya bangkit dan Jangan terjebak di masa lalu. Saul mungkin gagal, tetapi rencana Tuhan tidak pernah gagal.

Olehnya Tuhan memerintahkan Samuel untuk melangkah ke Betlehem membawa tabung tanduk berisi minyak pengurapan untuk mengurapi seorang yang telah dipilih Tuhan menjadi masa depan bagi Israel.

Ia pergi untuk menjumpai Isai dan anak-anaknya. Ketika mereka dikumpulkan untuk upacara pengorbanan, sebuah drama manusiawi yang sangat menarik terjadi. Anak sulung yang bernama Eliab masuk terlebih dahulu. Begitu melihat Eliab, Samuel langsung terkesima. Eliab berparas tampan, bertubuh tegap, berwibawa, dan gagah. Sehingga Samuel menyangka inilah orangnya.

Tetapi Tuhan langsung menginterupsi dan mengoreksi cara pandang nabi-Nya dengan kalimat teologis yang sangat menusuk di ayat 7:“Janganlah pandang parasnya atau perawakan yang tinggi, sebab Aku telah menolaknya. Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati.”

Semua anak-anak Isai yang ada di tempat itu tidak dipilih Tuhan. Tetapi Tuhan justru memilih seorang anak yang bahkan tidak diperhitungkan kehadirannya waktu itu. Anak yang menghabiskan hari-harinya bersama domba-dombanya, anak yang masih sangat muda, tidak gagah, juga terabaikan.

Daud orangnya, hati Tuhan tertambat kepada pemuda ini. Samuel melihat apa yang ada di depan mata, tetapi Tuhan melihat apa yang ada di dalam hati Daud.

Saudara-saudara, kita harus mengakui bahwa dunia saat ini, sangat gila dengan “kemasan luar”—wajah yang menawan, pakaian bermerek, pencapaian yang megah, jabatan yang tinggi dan status sosial lainnya. Tanpa itu semua, kita harus siap-siap diabaikan.

Namun sebagai anak-anak Tuhan, jangan tenggelam dengan apa yang yang menjadi fenomena dunia ini, sebab Tuhan tidak memperhitungkan itu semua. Ia melihat hati, Tuhan melihat hati yang seperti Daud. Hati yang murni, yang bisa lulus dari ujian rasa sakit serta bersih dari kepahitan, dendam, dan iri hati.

Hal ini terbukti dari dia yang diabaikan oleh ayahnya dan diremehkan oleh kakak-kakaknya, tetapi Daud tidak menyimpan dendam. Bahkan ketika kelak dikejar-kejar oleh Saul yang ingin membunuhnya, Daud tetap menolak membalas kejahatan dengan kejahatan.

Hati Daud sungguh murni dan bebas dari bentuk-bentuk akar-akar kepahitan. Tetapipun kemurnian hati Daud juga dinyatakan dari bagaimana ia begitu mencintai Tuhan. Dan ini nyata saat ia berhadapan dengan raksasa Goliat.

Ketika seluruh tentara Israel—termasuk kakaknya yang gagah, Eliab—gemetar ketakutan, Daud dengan berani maju karena ia tidak tahan melihat Nama Tuhannya dihina. Daud mengasihi Allah melebihi keselamatannya sendiri.

Itulah mengapa ia disebut sebagai a man after God’s own heart, seseorang yang berkenan dengan hati Tuhan. Tentu ini bukan berarti Tuhan mencari orang yang sempurna, sebab Daudpun akhirnya jatuh juga, namun karena ketulusannya mencintai Tuhan ia segera bertobat dan diubahkan.

Sehingga saudara, melalui Firman ini mari belajar – ketika dunia ini mengajar kita untuk berlomba-lomba mecari nama, ketenaran, dan pengakuan, sebagai anak-anak Tuhan kita justru terpanggil untuk mengejar perkenananNya.

Tidak perlu melakukan hal besar yang mempesonakan manusia, lakukan saja apa yang bisa kita lakukan, karena yang Tuhan lihat adalah hati yang tulus yang mau berupaya untukNya.

Saudara, alkisah ada seorang raja sombong yang membangun sebuah gereja yang sangat megah. Karena ingin mendapatkan seluruh pujian sendirian, raja itu membuat aturan ketat: tidak boleh ada satu orang pun di kerajaan itu yang menyumbang atau membantu pembangunan gereja tersebut.

Namun, setelah gereja itu selesai dengan nama sang raja terukir besar di depannya, Tuhan memberikan mimpi yang sama tiga kali kepada raja itu: ia melihat Tuhan justru mengukir nama gereja megah itu dengan nama seorang janda tua yang miskin.

Karena gelisah, keesokan harinya raja segera memanggil janda tua itu ke istana. Maka dengan gemetar, janda itu menjelaskan apa yang telah ia lakukan untuk pembangunan gereja itu. Ia mengakui bahwa ia hanyalah seorang janda miskin yang tidak punya apa-apa. Tetapi Ia sangat mengasihi Tuhan dan ingin sekali ikut terlibat dalam mendirikan rumah-Nya, tetapi ia tidak punya uang dan takut akan hukum raja.

Maka apa yang ia lakukan : setiap hari ia pergi ke ladang mencari rumput segar, yang kemudian di sorenya ia letakkan rumput itu di pinggir jalan agar bisa dimakan oleh kuda-kuda penarik batu yang akan membawa bahan material untuk membangun gereja itu. Ia melakukannya dengan tulus hanya demi membantu agar rumah Tuhan bisa berdiri.

Mendengar hal itu, sang raja menangis. Ia sadar bahwa di hadapan Tuhan, kemegahan hartanya sama sekali tidak ada artinya dibanding ketulusan hati janda tua ini.

Saudara, Tuhan Yesus tidak mencari kemasan luar yang megah. Ia melihat hatimu yang tulus mengasihiNya. AMIN

Continue Reading

Religi

Wali Kota Caroll Ikut Meresmikan Senior Living St. Yohanes Maria Vianney

Published

on

Wali Kota Tomohon Caroll Senduk bersama Uskup Keuskupan Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, M.Sc. menandatangani prasasti yang menandai diresmikannya Senior Living St. Yohanes Maria Vianney Keuskupan Manado, Sabtu (3/10/2026). (Prokopim Setda Tomohon).

KORIDOR, Tomohon : Wali Kota Tomohon Caroll Senduk bersama Uskup Keuskupan Manado Mgr. Benedictus Estephanus Rolly Untu, M.Sc. meresmikan Senior Living St. Yohanes Maria Vianney Keuskupan Manado.

Peresmian yang diikuti pemberkatan ini ditandai dengan pengguntingan pita, pembukaan selubung papan dan penandatanganan prasasti.

Dilaksanakan di Senior Living St. Yohanes Maria Vianney Keuskupan Manado di kompleks seminari Kakaskasen Tomohon, Sabtu (03/10/2026), dilanjutkan dengan misa.

Wali Kota Caroll Senduk dalam sambutan berharap kehadiran Senior Living St. Yohanes Maria Vianney ini menjadi rumah yang penuh kasih, dimana persaudaraan terus dibangun, doa terus dipanjatkan, sukacita terus hadir, terutama dimana para Senior kita dapat merasa aman, dihormati, diperhatikan dan dicintai.

“Selamat dan proficiat atas pemberkatan dan peresmian Senior Living St. Yohanes Maria Vianney Keuskupan Manado. Semoga bangunan ini bermanfaat dan menjadi berkat bagi banyak orang,” kata Wali KotaCaroll.

Hadir juga Emeritus Uskup Keuskupan Manado Mgr. Joseph Suwatan, seluruh Kuria Keuskupan Manado, Ketua Unio Keuskupan Manado Pst. Melky Malingkas bersama pengurus dan anggota Iman Diosesan Keuskupan Manado.

Juga Vicarius Episcopalis Kevikepan Tomohon Pst. Benedictus Pangkey, para pastor, imam, suster, bruder, frater dan seminari serta jajaran Pemerintah Kota Tomohon.(dek)

Continue Reading

Religi

Wakil Tuhan yang Setia

Published

on

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Pdt Lucy Abe Gerret STh

Renungan MTPJ sepanjang minggu ini
Nats Alkitab 2 Tawarikh 19:4-11

Bapak, Ibu, dan Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus. Seorang bijak pernah berkata: “Kesombongan terbesar manusia bukan saat ia merasa paling benar, melainkan saat hatinya terlalu keras dan egonya terlalu tinggi untuk menerima sebuah teguran.” Saat keangkuhan menguasai hati, kita merasa tidak pernah bisa salah.

Mari kita belajar dari kisah Bobby Fischer, sang jenius catur terbesar dunia pada era 1970-an. Sayangnya, seiring dengan kehebatannya, ego Fischer tumbuh jauh lebih besar daripada papan caturnya. Ia menolak masukan pelatih, membenci sahabat yang menasihatinya, dan memutus hubungan dengan siapa saja yang berani mengkritik.

Terjebak dalam ilusi bahwa dirinya tidak mungkin salah, Fischer mulai mengambil keputusan-keputusan fatal. Ia kehilangan gelar juara tanpa bertanding, melanggar hukum, menjadi buronan internasional, dan mengakhiri hidupnya dalam kesendirian serta kemiskinan di pengasingan.

Seorang jenius besar hancur bukan karena kekurangan bakat, melainkan karena kekerasan hatinya yang menolak untuk ditegur.

Saudara yang kekasih, ingatlah bahwa teguran tidak pernah menjatuhkan kita, tetapi keangkuhanlah yang melakukannya. Hal yang kontras ini terlihat jelas dalam hidup Raja Yosafat. Ketika ia berkompromi dengan dosa dan bersekutu dengan Raja Ahab yang fasik, Allah mengutus Nabi Yehu untuk menegurnya dengan keras.

Sebagai raja yang berkuasa, ego Yosafat bisa saja membuat ia marah, membela diri, atau bahkan menghukum mati nabi itu. Namun, alih-alih mengeraskan hati, Yosafat justru memilih meruntuhkan egonya dan merendahkan diri di hadapan Tuhan. Ia tidak sekadar menyesal di dalam istana, tetapi langsung bangkit membuktikan pertobatannya melalui tindakan reformasi yang total.

Perubahan itu dimulai ketika Yosafat keluar dari kenyamanan istananya di Yerusalem untuk berkeliling sendiri menemui rakyatnya, dari ujung selatan di Bersyeba hingga ke utara di pegunungan Efraim, demi membawa hati bangsa itu berbalik kepada TUHAN.

Kerinduan untuk hidup benar ini kemudian menggerakkannya untuk membenahi sistem hukum yang saat itu dipenuhi korupsi dan ketidakadilan. Yosafat mengangkat hakim-hakim baru dan menanamkan kesadaran yang sangat kuat di hati mereka dengan berkata: “Ingat, kamu memutuskan hukum bukan untuk manusia, melainkan untuk TUHAN.”

Melalui perkataan ini, Yosafat sedang menegaskan bahwa jabatan dan otoritas yang mereka miliki bukanlah alat kekuasaan, melainkan sebuah mandat ilahi. Mereka tidak sedang bekerja untuk menyenangkan manusia, mencari muka di hadapan raja, atau memperkaya diri sendiri.

Ia mengingatkan para hakim bahwa Tuhan sendiri ikut duduk dan mengawasi setiap ruang sidang, sehingga tidak boleh ada kecurangan, suap, atau pilih kasih. Hukum harus ditegakkan dengan rasa takut akan Tuhan.

Agar pembenahan ini berjalan dengan adil dan bersih, Yosafat menutup reformasinya dengan menata ulang kepemimpinan bangsa, memisahkan porsi pimpinan sipil dan agama sehingga setiap persoalan masyarakat dapat diselesaikan berdasarkan asas kebenaran Allah.

Saudara, kita hidup di zaman di mana semua orang ingin selalu dipuji, divalidasi, dan dianggap tanpa cela. Ironisnya, semakin tinggi posisi kita, semakin mapan ekonomi kita, atau semakin senior pelayanan kita, telinga kita cenderung menjadi semakin tipis.

Ketika ditegur—baik oleh pasangan, orang tua, rekan kerja, maupun lewat mimbar khotbah—reaksi spontan kita sering kali bukanlah introspeksi, melainkan marah, kecewa, dan tersinggung. Kesombongan seketika membangun benteng pembelaan diri dengan sejuta alasan, bahkan memicu dendam.

Di dalam gereja sekalipun, tidak sedikit jemaat yang memilih pindah gereja atau mogok melayani hanya karena ego mereka terluka oleh sebuah teguran. Kita dengan angkuh menggugat: “Siapa kamu berani menasihati saya?”

Kita sering salah melihat teguran sebagai serangan pribadi atau penghakiman. Namun, mari belajar dari Yosafat yang menerima teguran dengan kerendahan hati dan menjadikannya sebagai jalan kehidupan.

Tanpa teguran, kita seperti orang yang berjalan di tepi jurang dengan mata tertutup, tetapi dengan bodohnya menolak saat ada orang yang berteriak memperingatkan kita. Hari ini, mari beri kesempatan bagi teguran untuk mereformasi hati, pikiran, dan tindakan kita secara nyata.

Jadikan teguran itu sebagai fondasi utama untuk berbenah dan memperbaiki keadaan menjadi lebih baik. Ingatlah prinsip ini: menolak teguran berarti menolak kesempatan untuk diubah menjadi lebih mulia.

Tetapi juga saudara sekalian, apa yang Yosafat katakan mengingatkan kita pada pandangan John Calvin bahwa seorang pemimpin atau hakim adalah wakil Allah. Saat mengadili, Tuhan hadir di ruang sidang itu, sehingga mereka tidak boleh main-main, menerima suap, atau pilih kasih.

Namun, prinsip ini tidak hanya berlaku bagi hakim. Apa pun profesi kita—baik guru, pedagang, maupun karyawan—pekerjaan kita adalah tugas sakral dari Tuhan. Kita adalah wakil-wakil-Nya di dunia. Karena itu, jauhkanlah ketidakjujuran yang mendatangkan murka Allah, dan tampakkanlah hidup yang benar, penuh kasih, serta adil.

Memang, untuk menegakkan kebenaran sering kali menuntut harga yang sangat mahal. Namun percayalah orang yang tulus hati memperjuangkannya disertai oleh Tuhan senantiasa.

Dr. Ignaz Semmelweis di Wina, Austria, pada tahun 1840-an, saat ribuan ibu melahirkan meninggal misterius akibat “demam melahirkan”, Dr. Ignaz menemukan fakta revolusioner : para dokter menularkan kuman karena memeriksa pasien langsung setelah membedah mayat, tanpa mencuci tangan.

Ketika ia mewajibkan sterilisasi tangan dengan klorin, dunia medis menolaknya. Para dokter senior merasa terhina karena tangan terhormat mereka dituduh sebagai pembawa maut.

Karena bersikeras mempertahankan kebenaran ini, Dr. Ignaz dikucilkan, difitnah, dipecat, hingga akhirnya kehilangan akal sehat dan meninggal tragis di rumah sakit jiwa. Dunia mengira ia telah kalah.

Namun Saudara, manusia bisa membungkam sang pembawa kebenaran, tetapi mereka tidak akan pernah bisa melenyapkan kebenaran itu sendiri. Beberapa dekade kemudian, sejarah berbalik dengan sangat manis.

Sains membuktikan teorinya seratus persen benar. Kini, Dr. Ignaz Semmelweis dijuluki sebagai “Bapak Penyelamat Para Ibu”. Namanya diabadikan pada universitas kedokteran, dan setiap kali kita mencuci tangan di rumah sakit hari ini, kita sedang menikmati buah kebenaran yang dulu ia perjuangkan dengan air mata.

Saudara, berdiri di pihak kebenaran mungkin membuat kita tidak populer. Saat kita memilih jujur, menolak suap, atau enggan berbuat curang, kita mungkin akan dijauhi dan dikucilkan. Namun ingatlah, saat kita menderita demi kebenaran, Tuhan tidak pernah tinggal diam.

Manusia boleh menolak kita, tetapi Tuhan mengingat kesetiaan kita. Ia sendiri yang akan membela perkara kita dan membuktikan kebenaran kita – jika bukan hari ini di dunia, pasti kelak di kekekalan. Maka, tetaplah setia, tetaplah tulus hati. Kebenaran dari Tuhan tidak akan pernah kalah, dan Ia pasti menyertai orang-orang yang tuslus ikhlas. Amin.

Continue Reading

Trending