Kabupaten Talaud
Dari Rivalitas ke Kolaborasi Gagasan
Irwan Hasan memberikan pandangan soal kerjasama perikanan Talaud – Filipina. Dari ‘seteru’ politik menuju ruang dialog dan kolaborasi gagasan.
KORIDOR, Talaud : Pertemuan Bupati Talaud Welly Titah dengan Irwan Hasan, yang sebelumnya berada dalam arena kompetisi Pilkada, kini memperlihatkan sisi lain setelah kontestasi berakhir.
Saat bertandang ke kediaman Irwan Hasan, pembicaraan tidak hanya menyentuh soal silaturahmi, tetapi juga menyasar masa depan Talaud.
Salah satu yang menjadi perhatian Irwan adalah rencana dan kerja sama Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Talaud dengan Filipina di sektor perikanan.
Irwan berpandangan, kerja sama tersebut perlu diarahkan agar memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi Talaud, dalam hal ini para nelayan.
Ia mendorong agar investor Filipina tidak hanya datang mengambil hasil laut, tetapi juga berani menanamkan modal dengan membangun fasilitas perikanan di Talaud.
“Investor Filipina harus berani berinvestasi di Talaud, membangun fasilitas perikanan di Talaud. Jangan hanya datang menangkap hasil laut lalu pergi,” kata dia.
Menurut Irwan, kalau hanya datang berdagang seperti itu, tidak memberikan nilai tambah bahkan cenderung merugikan daerah.
Dia mengatakan investasi yang hadir bersama fasilitas pengolahan dan pendukung perikanan dapat membuka lapangan kerja serta membuat hasil laut memiliki nilai ekonomi lebih besar bagi masyarakat dan daerah.
Pertemuan kedua tokoh dalam suasana yang hangat dan akrab disertai gagasan-gagasan membangun Talaud tersebut menjadi menarik, karena muncul dalam suasana baru setelah Pilkada.
Dua figur yang sebelumnya berhadapan dalam kontestasi politik, kini memiliki ruang untuk bertukar pandangan mengenai upaya membangunTalaud.
Tidak termaktub jelas dalam kata-kata bahwa rivalitas politik boleh berakhir, tetapi gagasan membangun Talaud tidak harus berhenti, menggambarkan pertemuan ini.
Dalam konteks kerja sama dengan Filipina, gagasan Irwan juga membuka ruang diskusi yang lebih luas: bagaimana memastikan potensi perikanan Talaud tidak sekadar menjadi sumber bahan baku bagi pihak luar, tetapi mampu mendorong tumbuhnya investasi, industri pengolahan, lapangan kerja dan perputaran ekonomi di dalam daerah.
Pada akhirnya, publik tidak hanya menunggu foto pertemuan para tokoh, tetapi juga menanti gagasan apa yang lahir dari pertemuan tersebut dan apakah dapat diterjemahkan menjadi langkah nyata bagi masyarakat Talaud.
“Rivalitas politik boleh berakhir, tetapi gagasan untuk membangun Talaud tidak harus berhenti,” demikian simpul atas pertemuan kedua tokoh tersebut.(arni anggoman)
Kabupaten Talaud
PLTD Lirung Defisit Daya, Warga Keluhkan Pemadaman Listrik hingga 18 jam
KORIDOR, Lirung, Talaud : Warga di Kecamatan Lirung, Kabupaten Kepulauan Talaud, Sulawesi Utara, mempertanyakan pemadaman listrik yang berlangsung dalam durasi panjang.
Dalam sehari, sejumlah wilayah pelanggan PLN ULP Lirung dapat mengalami penghentian aliran listrik hingga sekitar 18 jam berdasarkan jadwal penghentian sementara yang diterbitkan PLN.
Pemadaman tersebut berkaitan dengan kondisi defisit daya pada mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Lirung. Dalam pemberitahuan kepada pelanggan, PLN ULP Lirung menyebut penghentian sementara aliran listrik dilakukan secara bergiliran menyesuaikan kondisi pembangkit dan jaringan.
Salah seorang warga, Adi. R, mempertanyakan kondisi tersebut. Menurutnya, pemadaman dalam waktu yang panjang sangat mengganggu aktivitas masyarakat dan membutuhkan penjelasan yang lebih terbuka dari pihak PLN.
“Pemadaman sampai sekitar 18 jam tentu sangat mengganggu aktivitas masyarakat. Kami berharap ada penjelasan yang jelas dari pihak PLN mengenai penyebabnya,” ujar Adi, Selasa (8/9/2026).
Berdasarkan jadwal yang disampaikan PLN ULP Lirung, penghentian aliran listrik pada Senin, 7 September 2026, dibagi dalam empat periode, masing-masing selama enam jam.
Pada pukul 00.00–06.00 WITA, pemadaman dijadwalkan terjadi di wilayah Musi, Alude, Kalongan, Balang, Sereh, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris.
Selanjutnya, pada pukul 06.00–12.00 Wita, wilayah yang terdampak meliputi Lirung, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris.
Pada pukul 12.00–18.00 Wita, giliran wilayah Lirung, Musi, Alude, Kalongan, Balang, dan Sereh yang masuk dalam jadwal penghentian aliran listrik.
Sementara pada pukul 18.00–24.00 Wita, pemadaman kembali dijadwalkan untuk wilayah Musi, Alude, Kalongan, Balang, Sereh, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris.
Pola serupa berlanjut pada Selasa, 8 September 2026, dengan pembagian wilayah pemadaman dalam empat periode enam jam.
Pada 00.00–06.00 Wita, penghentian aliran listrik dijadwalkan di Lirung, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris. Kemudian pukul 06.00–12.00 Wita, giliran Lirung, Musi, Alude, Kalongan, Balang, dan Sereh.
Pada pukul 12.00–18.00 Wita, seluruh wilayah Musi, Alude, Kalongan, Balang, Sereh, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris kembali masuk dalam jadwal penghentian. Sedangkan pukul 18.00–24.00 Wita, pemadaman dijadwalkan terjadi di Lirung, Moronge, Salibabu, dan Bitunuris.
Dengan pola penghentian yang dilakukan secara bergilir, pelanggan di sejumlah wilayah dapat mengalami pemadaman lebih dari satu periode dalam sehari. Kondisi inilah yang kemudian dikeluhkan warga karena berpotensi mengganggu aktivitas rumah tangga maupun kegiatan ekonomi.
PLN diminta terbuka
Pemadaman berkepanjangan dapat berdampak pada berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari penerangan, penggunaan peralatan elektronik, pengisian daya perangkat komunikasi, hingga aktivitas usaha yang bergantung pada pasokan listrik.
Warga berharap PLN melalui ULP Lirung dapat menyampaikan informasi secara terbuka mengenai kondisi sistem kelistrikan, termasuk perkembangan kemampuan pembangkit, langkah penanganan defisit daya, serta upaya untuk mengembalikan keandalan pasokan listrik.
Masyarakat juga meminta agar informasi mengenai perubahan jadwal pemadaman disampaikan sedini mungkin sehingga pelanggan dapat melakukan persiapan.
Dalam pemberitahuannya, PLN ULP Lirung menyatakan bahwa jadwal penghentian aliran listrik tersebut dapat berubah sewaktu-waktu, menyesuaikan kondisi mesin pembangkit dan jaringan tegangan menengah 20 kV ULP Lirung.
Noven Nofry Koropit, Manager Komunikasi & TJSL (Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan) PT PLN (Persero) Unit Induk Distribusi (UID) Suluttenggo (Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo), menjelaskan di sistem Lirung lagi ada penghenentian sementara pasokan listrik, dikerenakan ada beberapa mesin mengalami gangguan.
Warga berharap persoalan defisit daya pada PLTD Lirung segera mendapat penanganan sehingga pemadaman dalam durasi panjang tidak terus berulang dan keandalan pasokan listrik bagi masyarakat dapat kembali terjaga.(arni anggoman)
-
Sport3 minggu agoKlub Klabat XIII Jaya Sakti Gelar Kursus Pelatih Sepak Bola Lisensi D PSSI.
-
Opini1 bulan agoKrisis Operasional dan Ketahanan Finansial Perumda Air Minum Zano Mahawu
-
Religi1 bulan agoRuang Manis untuk Hari Esok
-
Opini1 bulan agoIkatan “Ketura” : Menuju Kesucian Presbiterial Sinodal GMIM
-
Tomohon4 bulan agoPanitia TIFF 2026 Pastikan Pesta Bunga Tomohon Kali Ini Dikemas Spektakuler
-
Ekonomi2 minggu agoPanen Rica di Tengah Kemarau, Pemerintah Didorong Perkuat Petani
-
Opini2 bulan agoAkuntabilitas Substantif
-
Opini4 minggu agoFiskal Kota Tomohon: Dari Capaian PAD 2026 Menuju Optimalisasi Pajak Sektor Energi
